Dialog Bersama Kepala Desa Kawasan Panca Mandala

Dalam rangka kegiatan Mendengar Daerah, Institut Harkat Negeri (IHN) mengadakan kunjungan dan dialog dengan para Kepala Desa yang tergabung dalam Kawasan Panca Mandala. Kawasan ini merupakan gabungan dari lima desa yang mempunyai kedekatan geografis dan persamaan visi-misi di antara kepala desanya. Kawasan Panca Mandala beranggotakan desa Papayan, Desa Mandala Mekar, Desa Mandala Hurip, Desa Kerta Rahayu, dan Desa Ciwarak. Kunjungan IHN bertempat di Kantor Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras, Tasikmalaya.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh tiga orang Kepala Desa dari lima anggota Kawasan Panca Mandala beserta perwakilan desa dari kelima anggota kawasan tersebut. Sementara dari pihak IHN diwakili oleh Rudiyanto, Saeful Doeala, Ika Istiana dan Binti N. Afdila. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut membahas banyak hal seputar potensi dan permasalahan yang ada di lima desa tersebut, khususnya kendala yang sering dihadapi oleh para Kepala Desanya.

Pak Undang, Kepala Desa Papayan mengungkapkan bahwa di kawasan Panca Mandala tersebut setiap desa mempunyai potensinya masing-masing. Misal desa Papayan mempunyai potensi produksi manggis dan kayu sengon. Sementara desa Mandala Mekar mempunyai ragam potensi wisata seperti curug, hutan dan situs-situs bersejarah. Begitu pula dengan tiga desa yang lain yang mayoritas mempunyai potensi produksi kayu sengon dan hasil pertanian. Untuk mengakomodasi potensi-potensi tersebut, kelima kepala desa bersepakat untuk membentuk sebuah Bumdes (Badan Usaha Milik Negara) yang diberi nama Bumdes Panca Mandala. Pada tahap awal, masing-masing desa anggota menyetor modal awal sebesar Rp 20.000.000. Tahun ini, pembangunan Bumdes sudah mencapai perumusan pengembangan bisnis dan rencananya masing-masing desa diwajibkan patungan modal sebesar Rp 100.000.000. Dana tersebut diambil dari alokasi dana desa.

Dalam kesempatan dialog, Pak Undang juga menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi dalam pembentukan Bumdes Panca Mandala. Kendala tersebut sebagian besar merupakan kendala teknis yaitu kurangnya pengetahuan dan teknologi untuk mengolah potensi daerah. Misalnya teknologi ekstraksi buah manggis menjadi sirup atau obat. Selain itu juga perlunya diadakan pelatihan pemasaran produk. Kurangnya jaringan pemasaran di luar daerah juga menjadi kendala signifikan. Karena apabila produk-produk Bumdes dipasarkan di desa, maka dikhawatirkan akan bersaing dan mematikan ekonomi masyarakat desa sendiri.

Sementara itu, pak Yana Kepala Desa Mandala Mekar mengungkapkan curahan hatinya dalam mengelola dana desa. Sejumlah dana besar yang dilimpahkan untuk pembangunan desa nyatanya tidak serta merta memudahkan beliau untuk berinovasi sesuai kebutuhan desanya. Turunnya dana desa tersebut diikuti dengan aturan-aturan Perda yang mengikat, termasuk pengaturan presentase alokasi dana desa yang sebagian besar diwajibkan untuk pembangunan infrastruktur fisik dan alokasi gaji pegawai desa. Sementara itu pembangunan potensi sumber daya manusia di desa masih terus diabaikan.

Masalah lainnya adalah kurangnya kepercayaan pemerintah pusat dalam pemberian otonomi desa. Bapak Undang mengibaratkan otonomi yang dimiliki oleh para kepala desa itu bagaikan dilepas kepalanya dipaku ekornya. Seringnya desa hanya menjadi pelaksana teknis yang menyampaikan bantuan kepada masyarakat, sebagai contoh PKH dan Raskin. Pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat, sayangnya data yang dipakai pemerintah harus berasal dari lembaga sensus yang ditunjuk oleh pemerintah, bukan atas rekomendasi desa. Lembaga tersebut tentunya memerlukan waktu untuk mengelola data dari ribuan desa, sehingga ketika data naik ke pemerintah pusat dan dana dicairkan, kondisi di lapangan sudah tidak sama. Ketidakakuratan tersebut akhirnya membuat masyarakat saling iri. Maka sebagai solusi, terpaksa Kepala desa di kawasan Panca Mandala melakukan pemerataan hasil. Karena kecemburuan sosial dapat merusak semangat gotong-royong warga desa. tidak lagi mau mengikuti kegiatan gotong royong dan lain sebagainya.

Pengkaderan pemuda desa juga merupakan hal yang perlu diperhatikan semua pihak. Hal ini disampaikan oleh Kepala desa Kerta Rahayu yang merupakan kepala desa termuda di kawasan tersebut. Beliau bercerita bahwa saat pertama kali menjabat, Beliau tidak mendapatkan apa-apa (legacy) dari pemerintah sebelumnya. Sehingga Beliau memerlukan waktu selama 1 tahun untuk mengenal dan mempelajari Desa. Pak Yana yang merupakan Kepala Desa pada periode kedua di des Mandala Mekar juga menyampaikan bahwa Beliau membutuhkan waktu 3 tahun untuk mengenal lebih jauh kebutuhan desanya. Sehingga Kepala Desa membutuhkan pelatihan seperti lokakarya, yang mencakup aspek kepemimpinan dan administrasi daerah yang setelah dilakukan pelatihan bisa langsung dipraktekkan.

Oleh: Ika Istiana

Tim IHN bersilaturahmi dengan warga di Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi

Usai mengunjungi Museum dr Radjiman Widyodiningrat dan Monemun Soeryo, Tim IHN bersilaturahmi dengan warga di sekitar lokasi Monumen Soeryo. Tepatnya di Desa Bangunrejo Kidul Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, bertempat di rumah mantan Kepala Desa Bapak Giarto. Perbincangan cukup hangat mulai dari pembangunan desa yang masih tertinggal, dinamika birokrasi daerah hingga nasib petani di sekitar hutan jati. Ada banyak pelajaran dan catatan dari hasil silaturahmi dengan warga yang patut dikaji lebih lanjut oleh Tim IHN.

Selesai diskusi dilanjutkan acara santai dengan membangun keakraban dalam silaturahmi Tim IHN dengan warga di Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi

Kemudian berlanjut dengan santap siang bersama warga usai acara silaturahmi dan bincang-bincang seputar permasalahan lokal di Desa Bangunrejo Kidul, Kec.Kedunggalar, Ngawi.

Tampak pula pada gambar Ketua IHN Soedirman Said sedang mencicipi aneka menu lokal yang disiapkan oleh warga.

Sesi dialog dan mendengar daerah antara Tim IHN dengan KOmunitas lokal Purwokerto

Dalam kunjungan ke Purwokerto, Tim IHN menyempatkan bersilaturahmi dan bertemu muka dengan komunitas lokal dari berbagai latar latar belakang. Bertempat di Hotel UMP Kebondalem, Purwokerto, pertemuan Tim IHN dengan Komunitas lokal membahas berbagai permasalahan, mulai dari budaya lokal, pemberdayaan petani, dinamika birokrasi hingga persoalan potensi ekonomi masyarakat di seputar Banyumas. Tampak dalam gambar suasana forum pertamuan IHN dengan komunitas lokal purwokerto.

Salah satu tokoh Lokal Prof Sugeng, yang menyampaikan potret masyarakat Banyumas dalam sudut pandang kebudayaan.

Ketua IHN sedang menyampaikan respon setelah mendengar berbagai paparan peserta silaturahmi

Foto bersama Tim IHN dengan komunitas lokal usai dialog dan ramah tamah

Selingan musik keroncong di sela acara silaturahmi dan dialog komunitas

Tim IHN Melakukan Dialog dengan Komunitas Lokal

Satu kegiatan dari rangkaian roadshow bertajuk mendengar daerah, Tim IHN melakukan silaturahim dan berdialog dengan komunitas lokal di Solo. Diskusi membicarakan dinamika masyarakat di lingkungan Solo dan sekitarnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendengar berbagai potensi dan permasalahan di daerah, khususnya di Solo. Tampak hadir Ketua IHN Sudirman Said yang didampingi oleh Tim IHN Adib Achmadi dan Sahala Harahap. Turut hadir pula dalam diskusi Wartawan senior J. Joseph Osdar.

Komunitas lokal Solo yang hadir dalam dialog tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat, diantaranya dari akademisi, aktivis mahasiswa, kelompok diskusi, dan komunitas UMKM. Diskusi santai tersebut dipandu oleh pegiat sosial asal Solo, saudara Respati.

Kegiatan mendengar daerah ini bertempat di Rumah Makan Roemahkoe yang berada di lingkungan Kampung Batik Laweyan Solo. Di tempat ini tersimpan risalah perjuangan KH Samanhudi dan organisasi Serikat Dagang Islam (SDI). Acara ditutup dengan foto bersama antara Tim IHN dengan para peserta dari berbagai komunitas di Solo.

Isu yang dibahas dalam dialog cukup luas, mulai persoalan ekonomi, kebudayaan, hingga dinamika politik aktual. Ketua IHN pun, dengan sabar merespon berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta dialog. Banyak ide-ide kritis dan segar yang muncul dari peserta diskusi yang membuat waktu dua jam terasa singkat.

TIM IHN, berkunjung ke Situs Sejarah Trowulan dan Berziarah ke Makam Gusdur dan Makam Bung karno

Perjalanan membaca Indonesia Tim IHN ke Jawa Timur di antaranya berkunjung di Situs Trowulan dan berziarah di dua makam pahlawan nasional. Kedua makam tersebut adalah Makam KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) di Tebu Ireng dan Makam Ir. Soekarno (Bung Karno). Dalam foto di atas, Tim IHN dan Arifin Asdat (Pimred Kumparan) berfoto di depan Rmah Panggung di area situs.

Sudirman said, ketua IHN, sedang berfoto di samping patung mahapatih gajah mada.

Di kedua makam tersebut Tim IHN melakukan doa bersama sekaligus merefleksi kembali akan perjuangan dari pahlawan tersebut. Foto di atas menunjukkan TIM IHN sedang berdoa di Makam Gus Dur.

Setelah mengunjungi situs sejarah Trowulan dan Makam Gusdur, Tim IHN melanjutkan perjalanan menuju Makam Bung Karno. Tampak dalam foto, Tim IHN membaur dengan masyarakat untuk melakukan doa bersama di Makam Bung Karno, Blitar.

Seusai melakukan doa bersama, Tim IHN berfoto bersama di depan pintu makam Bung Karno, di Blitar.

Ziarah dan doa bersama di Makam Jenderal Soedirman, Yogyakarta

Perjalanan membaca Indonesia Tim IHN ke Yogyakarta diantaranya berziarah di dua makam pahlawan nasional. Kedua makam tersebut adalah Makam Panglima besar Jenderal Soedirman dan HOS Cokroaminoto. Di kedua makam tersebut Tim IHN melakukan refleksi sejenak seputar bhakti dan perjuangan semasa kedua pahlawan masih hidup. Tampak dalam gambar Tim IHN sedang melakukan doa bersama di makam Jenderal soedirman.

Foto bersama Tim IHN di depan Makam Jenderal Soedirman, di Taman Makam Pahlawan, Kusuma Negara Yogyakarta.

Refleksi dan doa bersama Tim IHN di Makam HOS Cokroaminoto, di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.

Ketua IHN, Soedirman Said sedang berfoto di samping nisan Pahlawan Nasional, HOS Cokroaminoto.

Tim IHN sedang menyusuri area Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta, untuk menuju Makam HOS Cokroaminoto.

Tim IHN berkunjung ke rumah tempat lahirnya Jenderal Soedirman

Monumen tempat lahir Jenderal Soedirman di Desa Batarkarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga menjadi salah satu tujuan Tim IHN dalam seri Perjalanan Membaca Indonesia. Di tempat ini Tim IHN menyaksikan berbagai peninggalan Jenderal Soedirman diantaranya kamar tempat pahlawan nasional itu dilahirkan dan tempat tidur bayi, termasuk di dalamnya ada replika dan relief perjuangan Jenderal Soedirman di dinding depan rumah.

Berbincang tentang perjalanan Jenderal Soedirman di halaman Momumen Jenderal Soedirman

Foto bersama TIM IHN di halaman Momumen Jenderal Soedirman

Tim IHN, berkunjung ke Situs bersejarah di Ngawi

Di Kabupaten Ngawi, tepatnya di Dusun Dirgo, Desa Walikukun Kab Ngawi, terdapat sebuah rumah peninggalan salah satu pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah dr Radjiman Widyodiningrat. Rumah mantan Ketua BPUPKI ini kini menjadi museum yang dibuka untuk publik. Beberapa benda peninggalan di dalam museum antara lain risalah-risalah (foto dan tulisan), perabotan, dan patung delman yang berada di halaman museum. Mengunjungi museum dr Radjiman Widyodiningrat pengunjung bisa mendapatkan informasi seputar kiprah pahlawan nasional tersebut saat menjelang kemerdekaan dan kiprahnya di masyarakat pada masa itu.

Foto bersama Tim IHN, wartawan senior Josep Osdar dan penjaga museum di halaman museum.

Di dalam museum yang cukup luas ini, Tim IHN berbincang santai di ruang tamu museum.

Ketua IHN juga sempat berfoto di salah satu dinding museum yang bertuliskan risalah tentang aktivitas dr Radjiman Widyodiningrat selama berada di rumah tinggalnya di Dusun Dirgo, Walikukun Ngawi

Gerbang Situs dr Radjiman Widyodiningrat.

Selain ke Museum dr Radjiman Widyodiningrat, Tim IHN juga berkunjung ke Monemen Soeryo. Situs ini berada dipinggiran Jalan Raya Ngawi Solo, di kawasan hutan jati Ngawi. Tampak Tim IHN berfoto bersama di bawah patung Gubernur Soeryo.

Ketua IHN,Soedirman Said pun berfoto di samping prasasti Monumen Soeryo.

TIM IHN berkunjung ke Kampung Batik Laweyan Solo

Solo identik dengan kota Batik. Kurang afdol bila ke Solo tanpa mengunjungi Kampung Batik Laweyan. Oleh karena itu, dalam rangka kegiatan Membaca Indonesia Tim IHN mengagendakan kunjungan ke Kampung Batik Laweyan.Tempat ini merupakan sentra kerajinan batik tertua di Kota Solo. Kampung batik Laweyan juga merupakan tempat lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dibentuk oleh KH Samanhudi. Pembentukan SDI di Laweyan merupakan upaya untuk melindungi produksi batik Laweyan dari cukong-cukong firma Tionghoa.

Sarapan pagi dan berdiskusi di rumah makan Roemahkoe, Laweyan, Tim IHN berdiskusi seputar SDI dan kaitannya dengan Kampung Batik Laweyan.

Ketua IHN juga menyempatkan diri untuk membaca dan mengamati risalah seputar Serikat Dagang Islam (SDI) dan aktifitas KH Samanhudi pada dinding Rumah Makan Roemahkoe, di Laweyan. Konon, sebagian benda benda Museum KH Samanhudi ditempatkan disini, lantaran museum aslinya sudah tutup. Risalah yang terpajang di dinding berupa foto-foto dan narasi perjalanan KH Samanhudi dan Serikat Dagang Islam.

Sepanjang menyusuri Kampung Batik Laweyan, rombongan IHN menyaksikan bangunan-bangunan tua yang masih terlihat besar dan kokoh, bangunan-bangunan tersebut merupakan warisan dari kejayaan gerakan ekonomi rakyat yang dicetuskan oleh KH Samanhudi.

Dari Kampung Batik Laweyan,Tim IHN berjalan menuju makam KH Samanhudi yang terletak di komplek pemakaman umum Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. KH Samanhudi mendapat gelar pahlawan dari Soekarno dengan menyematkan Bintang Mahaputera kepada anaknya Soekamto atas nama keluarga KH Samanhudi. Sayangnya, kondisi makam Pahlawan Nasional ini cukup memprihatinkan. Jauh dari ekspektasi penghargaan untuk makam seorang Pahlawan Bangsa.

makam KH Samanhudi

Ziarah ke makam KH Samanhudi dilakukan sambil napak tilas perjalanan pergerakan SDI. KH Samanhudi menoreh sejarah karena ia adalah orang pertama di Indonesia yang mendirikan sebuah bentuk organisasi, yang dinamai Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. SDI kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) pada 11 November 1911. Di Pemakaman tersebut, Tim IHN melakukan refleksi dan doa yang dilanjutkan dengan foto bersama.

Perjalanan Tim IHN di Solo selanjutnya adalah ziarah ke makam Pangeran Sambernyowo. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyowo alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun). Beliau adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Julukan Pangeran Sambernyowo diberikan oleh Nicolaas Hartingh, Gubernur VOC, karena di dalam setiap peperangan, RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Monumen Tridharma di area makam Pangeran Sambernyowo

Tim IHN juga singgah ke Monumen Tridharma yang merupakan salah satu situs di area makam Pangeran Sambernyowo. Monumen ini mengisahkan bahwa selama menjalankan pemerintahannya, Pangeran Sambernyowo menerapkan prinsip Tridarma, yaitu Rumangsa Melu Handarbeni (merasa memiliki), Melu Hangrungkebi (merasa bertanggung jawab), dan Mulat Sarira Hangrasa Wani (berani mengoreksi dirinya sendiri). Prinsip Tridarma merupakan ajaran kepemimpinan Pangeran Sambernyowo yang memiliki makna dan dampak nyata dalam masa kepemimpinannya dan sangat relevan untuk kondisi sekarang.

Alia Noor Anoviar

Alia Noor Anoviar, pendiri dreamdelion, yang merupakan community development yang memiliki fokus pada isu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan serta pendampingan dalam pemberdayaan ekonomi. Ide ini bermula pada saat ia melakukan pertukaran mahasiswa di Thailand selama 4 bulan. Selama exchange itu , Ia ikut beberapa club mahasiswa. Salah satu club yang menginspirasinya untuk membuat Dreamdelion adalah SIFE Club. Di club ini, Ia pernah mengikuti programnya dan dipertemukan dengan petani lokal. Saat melakukan kunjungan tersebut, Dosen pembimbingnya menjelaskan bahwa mereka sudah membantu petani dalam beberapa tahun terakhir. Program itu dibawah naungan kampus tapi dijalankan oleh mahasiswa, sehingga program ini bisa mengalami keberlanjutan. Di dalam SIFE Club yang diikuti Alia itu, beranggotakan anak-anak yang memiliki kecukupan ekonomi. Alia yang merupakan peraih beasiswa akhirnya berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu agar dapat bermanfaat di sekitarnya. Dari situ ia ingin mendirikan SIFE Club di Indonesia, namun kesulitan birokrasi membuatnya untuk mengurungan niat dan membentuk komunitas dengan nama CEO Shop (Community Empowerment Online Shop) untuk pembiayaan Sanggarai (Sanggar Belajar Anak Manggarai).

Berawal dari kegiatan penelitian Alia di Manggarai pada tahun 2011 dimana daerah tersebut membutuhkan sekolah informal terkait pendidikan karakter. Kemudian Ia memulai membuat Sanggar belajar pada tahun 2012 bersama kedua temannya yaitu Site dan Sentia. Sanggar belajar yang ia bikin ini awalnya diikuti oleh 5 sampai 15 anak di Manggarai. Saat itu selain melakukan kegiatan sosial, Alia juga memiliki hobby menulis. Ia pun menuliskan mimpinya untuk membuat komunitas yang pembiayaannya bisa dilakukan secara mandiri yang selanjutnya menjadi cikal bakal lahirnya Dreamdelion. Tulisan tersebut kemudian sampai pada Bu Dewi, Dosen Alia. Diundanglah Alia untuk menemui Bu Dewi, Alia menuturkan bahwa tulisan itu masih mimpi, kemudian Bu Dewi, menantang Alia untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Keputusan Alia memperjuangkan Dreamdelion

Alia menceritakan bahwa perjalanan awal dreamdelion tidak mulus begitu saja. Ia mengatakan 3 kali ingin membubarkan sanggar belajar karena kurangnya pembiayaan dan tidak ada pengajar rutin mingguan sehingga setiap minggu harus mencari orang yang berbeda. Teman yang Ia ajak untuk mengajar sering kali tidak mau kembali ke sanggar belajar yang Ia dirikan. Pasalnya, sanggar belajar ini berada di depan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang meskipun ukurannya kecil tapi baunya sangat menyengat. Sehingga setiap minggunya Alia akan membawa teman baru untuk mengajar. Sedangkan secara modal, Alia yang saat itu mendapatkan uang beasiswa untuk kuliah merasa tidak cukup, jika uang beasiswa juga untuk membiayai sanggar belajar. Saya pindah dari kosan seharga 500 ribu ke kosan yang seharga 350 ribu yang jauh lebih sempit dan dengan fasiitas seadanya agar bisa menyisihkan untuk keperluan Sanggar Cerita Alia sambil tertawa. Namun, niat luhurnya untuk mengembangkan masyarakat kembali menguat saat anak didik Alia menginginkan agar Sanggar Belajar terus ada. Untuk menalangi kesulitan dana itulah Alia membuat Online shop yang menjual barang-barang dan keuntungannya digunakan untuk mendanai sanggar.

Kemauan keras Alia untuk membuat perubahan tentu diiringi dengan gagasan disertai dengan keberanian. Ia ingin sekali menumbuhkan animo teman-temannya untuk menjadi tutor. Maka, Ia kemudian berfikir untuk melakukan lobby pada kepala RT dan RW untuk meminta agar TPA tersebut dipindahkan. Melihat antusias anak-anak sanggar yang semangat belajar maka Kepala RT dan RW menyetujui untuk dipindahkan. Alia pun berhasil. Sejak saat itu untuk tutor pengajar, Alia sudah tidak lagi kekurangan orang. Alia tidak bekerja sendiri tentunya, ada tim hebat yang bekerja bersamanya untuk memperjuangkan mimpi masyarakat sasaran yang membutuhkan.
Alia mengaku, untuk saat ini tantangan dreamdelion sendiri adalah Sumber Daya Manusia. Kita bisa berjalan tanpa uang, tapi kita tidak bisa berjalan tanpa SDM yang bagus. Kata Alia. Ia menyampaikan bahwa Sumber Daya Manusia ini tidak hanya tim tapi juga Sumber Daya Manusia yang berasal dari masyarakat. Tantangan lain, yang dihadapi oleh Dreamdelion saat ini adalah kapital untuk kegiatan besar yang membutuhkan modal tinggi.

Perkembangan Dreamdelion

Seiring berjalannya waktu, dreamdelion-pun tumbuh dan berkembang. Dreamdelion kini memiliki program andalan berupa Dreamdelion Cerdas, Dreamdelion Kreatif, Dreamdelion Sehat. Dreamdelion cerdas ini awalnya bernama sanggarai (Sanggar Anak Manggarai) yang merupakan sanggar untuk belajar karakter. Namun kemudian karena keterbatasan baik modal, sumber daya manusia atau guru dan alat pendidikan karakter. Maka dikembangkanlah ekonomi masyarakat untuk menunjang program ini. Dari program ini sudah terlaksana pelatihan karakter, program beasiswa, program parenting dan lain-lain. Untuk Dreamdelion Sehat, ini merupakan program yang memiliki fokus pada masalah kesehatan dan lingkungan. Contoh program yang sudah diterapkan adalah Vertikultur, Budaya Lele dalam Tong (Buletong), Gerakan masyarakat sehat (GEMAS), pendidikan lingkungan dan manggarai berlari. Program unggulan ketiga adalah Dreamdelion Kreatif, program pengembangan masyarakat dengan memberikan pelatihan membuat produk kreatif. Untuk program ini ditargetkan pada ibu-ibu rumah tangga. Tapi Dreamdelion Kreatif juga melakukan pelatihan craft (Craft Class) dan Dreamdelion Kreatif Goes to School di sekolah-sekolah.

Program Vertikultur yang dijalankan oleh Dreamdelion

Dalam menjaga semangat dalam tim, terdapat berbagai program pelatihan bagi tim sehingga dapat meningkatkan kapasitas anggota dan memperkuat komunitasnya. Dreamdelion juga membuka program internship. Dalam program internship, Alia menuturkan bahwa peserta internship akan diberikan projek dan workshop pelatihan untuk menunjang kemampuan para pemagang. Sampai sekarang, program internship sudah berjalan sampai batch 6.

Program Dreamdelion Sehat

Dukungan dan Penghargaan yang diterima Dreamdelion

Kini, Dreamdelion sudah berkembang di 5 kota di Indonesia seperti Jakarta yang berdiri pada tahun 2012, Jogjakarta pada akhir tahun 2013, Ngawi pada tahun 2015, dan pada tahun 2017 terdapat daerah baru yaitu Surabaya dan Cianjur. Proses pemilihan daerahnya tentu dengan melihat local champion atau keberadaan penggerak. Jika memang ada penggerak, maka Dreamdelion bisa dibuka di daerah baru. Banyaknya sekali daerah yang meminta untuk membuka dreamdelion adalah kelompok masyarakat, seperti ajakan dari BEM dan kelompok lain. Sambung Alia.

Dreamdelion juga banyak menjalin kerjasama, seperti Kerjasama dengan Kemenakertrans, Kominfo, NGO, Komunitas dan perusahaan seperti CIMB Niaga, Indonesia Power, Bank Danamon, dan lebih dari 100 lembaga dan institusi lainnya.

Dreamdelion yang digawangi oleh Alia ini sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan seperti Youth Educators Awards (2012), Young Change Maker Ashoka (2012), Top 3 Mandiri Bersama Mandiri 2012 kategori Start Up Creative Industry (2012), The Most Innovative Bussines ELD Award FEUI (2012), Danamon Social Entrepreneur Award (2014), Hult Prize (2015), Gadjah Mada Entrepreneur Festival (2014), Danone Young Social Entrepreneur (2015), dan Kartini Next Generation Bidang Sosial Budaya (2015). (afd)

Stevie Jeremia Hermawan

Ngopi sudah merupakan suatu hal yang lumrah di keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari jaman orang tua dulu, ngopi sudah dimulai sejak pagi sebelum memulai aktifitas, berlanjut ngopi sambil ngerokok setelah makan siang hingga ngopi di sore hari sambil menikmati senja. Di kalangan anak muda pun, kopi juga bertransformasi sebagai gaya hidup kekinian, hingga muncul istilah ngopi-ngopi cantik. Namun pernahkah saat di sela-sela menikmati kopi kita berpikir, dari manakah kopi ini berasal? Sudahkah para petani kopi menikmati hidupnya senikmat rasa kopi di tangan Anda?

Stevie Jeremia Hermawan, Salah seorang pemuda yang meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota untuk dikirimkan ke daerah terpencil dan terluar Indonesia melalui program Patriot Energi, akhirnya tinggal dan berbaur dengan para petani kopi di desa Minanga, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Melihat dan mengalami sendiri hidup keseharian para petani kopi di desa tersebut, juga atas permintaan para penduduk desa untuk membantu memasarkan kopi ke Jawa, maka Stevie dan beberapa temannya di Patriot Energi bertekad untuk mengangkat nilai kopi lokal, setara dengan proses dan kerja keras yang telah dilalui biji kopi tersebut hingga terseduh cantik di tangan Anda.

Maka setelah serangkaian diskusi panjang di sela-sela masa re-orientasi Patriot Energi, terbentuklah Narakopi, yang merupakan akronim dari Narashakti (sebutan untuk alumni Patriot Energi 1) Kopi pada tanggal 15 April 2015. Narakopi pun menetapkan visi langkahnya sebagai sebuah unit usaha koperasi kopi yang terintegritas dari hulu ke hilir, dari desa ke kota. Kopi akan dipasok oleh petani kopi di desa melalui koperasi primer yang ada di desa. Kemudian dikirim dan didistribusikan ke koperasi distribusi di kabupaten, yang kemudian akan dikelola di Jakarta oleh Narakopi.

Sebagai pilot project, dipilihlah dua daerah penempatan patriot yaitu desa Minanga, Kab. Mamasa dan desa Barumbun, Tanah Toraja. Kelompok Narakopi kemudian dibagi 2, Stevie-Maya sebagai Kelompok Pemberdayaan Desa yang berperan untuk mendampingi para petani kopi di desa penempatan selama 6 bulan masa bakti Patriot Energi 2 dan Bimo-Bia dibantu para Narashakti yang lain sebagai kelompok kota yang berperan dalam mempelajari pasar dan mengirim support materi dan alat untuk kepentingan pelatihan di desa.

Selama masa pendampingan di Mamasa, Stevie dan Maya giat mendampingi petani ke ladang-ladang kopi untuk memilih biji kopi terbaik, berdiskusi dengan para petani kopi, membangun rumah kaca sederhana untuk tempat pengeringan kopi serta melakukan kegiatan pelatihan pengolahan dan penyeduhan kopi. Stevie juga membangun jaringan dengan penduduk lokal di Mamasa dan mempersiapkan� Key Person di daerah untuk kelancaran transportasi dan komunikasi di daerah ketika masa pendampingan telah berakhir.

Untuk memberikan harga yang adil bagi petani kopi, Stevie dkk menyerahkan penentuan harga pasar oleh petani sendiri, dengan beberapa pertimbangan perhitungan tentunya. Sehingga antara petani dan Narakopi dapat mencapai kesepakatan harga bersama. Ada beberapa komponen biaya yang harus dicermati bersama yang secara berturut-turut dijabarkan sebagai berikut:� harga pokok buah, biaya pasca panen (meliputi biaya pengeringan buah kopi, biaya sortir, pengupasan dan biaya roasting), biaya distribusi, harga kemasan, keuntungan yang ingin diperoleh, biaya cadangan dan nilai penyusutan kopi. �Saat ini semua masih sama-sama belajar dan saya cukup senang karena setidaknya sekarang para petani kopi di desa sudah mampu menentukan berapa harga kopi yang pantas untuk membayar jerih payahnya. Tentunya tetap dalam koridor logis berdasarkan komponen biaya dan besaran keuntungan yang ingin mereka peroleh. Masyarakat tahu cara menghitung harga kopi, kenapa tidak lebih rendah atau lebih mahal. Dari hulu ke hilir sama- sama tahu tentang harga tersebut. Keduanya sama-sama tahu masing-masing mengambil untung berapa.� Terang Stevie.

Setelah berjibaku selama kurang lebih satu tahun, Stevie bersama teman-teman narakopi mulai menapaki jalan terang. Saat ini mereka sedang mengembangkan 2 kedai kopi yaitu Coworking Space Bakusapa di Rawamangun atas kerjasama pembiayaan dengan Koperasi Trisakti Bhakti Pertiwi dan Coffee on The Go Bakusapa di gedung FTSP, Universitas Trisakti bekerja sama dengan koperasi karyawan FTSP dan kedai kopi ngoepilah. Kedua kedai kopi ini menggunakan kopi-kopi dari petani binaan di Mamasa dan Toraja. Selain itu ada 3 daerah binaan lain oleh rekanan Narakopi yang mengirimkan produk daerahnya, antara lain Kertanegara (Bali), Gayo (Aceh) dan Mandailing (Sumatra Utara). Sementara untuk urusan manajemen dan operasional, Stevie menegaskan bahwa semuanya ditangani oleh anggota narakopi.

Kedua kedai kopi tersebut dikelola dengan ciri khas yang berbeda.� Coworking space Bakusapa Rawamangun mengutamakan diri sebagai ruang kolaborasi. Sehingga tempat tersebut tidak hanya untuk nongkrong-nongkrong cantik, tetapi juga sebagai tempat berbagi ilmu, berdiskusi, belajar bersama dan membentuk start-up-start up baru. Ruangan kedai pun dilengkapi dengan white board, meja-meja panjang dan round-table juga koleksi-koleksi buku di raknya. Berbagai event komunitas juga digelar di sana seperti pelatihan fotografi dan diskusi tematik.� Sedangkan Coffee on The Go Bakusapa, universitas Trisakti lebih mengedepankan konsep coffee express yang lebih efisien untuk para mahasiswa Trisakti.

Yang membedakan antara kedai kopi Bakusapa dengan kedai kopi lainnya adalah pemilihan kopinya. Untuk menjaga kualitas dan karakteristik rasa kopi, setiap supply kopi yang dikirim ke narakopi harus dipisahkan sesuai asal kebunnya. Untuk membedakannya, biasanya setiap kemasan kopi ditandai dengan nama petani dan daerah asal kopi. Dengan begitu kopi dari perkebunan yang terawat baik, tidak akan tercampur dengan kopi yang masih perlu ditingkatkan pengolahannya. Kopi-kopi di kedua kedai tersebut di-roasting dan diseduh sendiri oleh narakopi. Untuk meningkatkan kualitas olahan kopi, Narakopi juga sering bertukar ide dan ilmu kebaristaan dengan rekanan peer sharing seperti Kopi Tanah Air Kita di BSD, Ngopilah di Cempaka Putih, Jakarta dan Wikikopi di Yogyakarta.

Setiap usaha tentu akan menemui kendala, namun Stevie mengungkapkan saat ini kendala Narakopi masih sekitar fluktuatifnya pasokan kopi karena pengaruh cuaca akhir-akhir ini. Selain itu ia merasa perlu penambahan personil untuk urusan operasional Narakopi supaya ke depannya bisa lebih terstruktur dan pembagian beban kerja pun merata.

Untuk tahun- tahun ke depan, Stevie berharap Narakopi akan memiliki lebih banyak anggota dan dapat memberi kontribusi lebih besar kepada para petani kopi di desa-desa. Ia bermimpi bahwa suatu saat nanti Narakopi dapat segera mempunyai anggota yang sevisi untuk mengembangkan koperasi kopi. Ia juga berharap, nantinya akan lebih banyak pemuda Indonesia yang melakukan aksi nyata dari pada menunjukkan omong besar untuk memajukan Indonesia.

Salam,
Ika Istiana

Bagus Muhammad Rizal

Berbuat Untuk Negeri melalui Sekolah Anak Bahari 

Bagus Muhammad Rizal, pemuda berusia 21 tahun, menggagas Sekolah Anak Bahari. Sekolah Anak bahari adalah Komunitas yang fokus pada anak-anak Pesisir. Sekolah ini berada di Kampung Tanjung Kait, RT 1, RW 1, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Bagus mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari sebuah pelatihan kemaritiman yang Ia ikuti di Yogyakarta. Di pelatihan tersebut, ia disadarkan bahwa potensi kemaritiman Indonesia sangatlah besar. Kemudian saat pulang iapun tergerak untuk membuat sesuatu di daerah. Ternyata setelah melakukan survei selama 3 bulan. Ada dua fokus yang bisa digerakkan, yaitu pendidikan dan lingkungan. Ia pun kemudian mencari data ke Dinas Pendidikan, ternyata angka putus sekolah dan angka buta aksara di daerah pesisir itu cukup tinggi. Maka muncullah ide Sekolah Anak Bahari ini.

Bagus memang pemuda yang aktif. Ia memiliki banyak sekali prestasi mulai duta pemuda antinarkoba Kabupaten Tangerang hingga delegasi Indonesia untuk pertukaran pemuda Indonesia dan Tiongkok. Hal tersebut tentu menjadi dorongan kuat untuk berbuat lebih di daerah Tangerang. Dia kemudian mengajak 4 temannya yang memiliki ketertarikan yang sama untuk membuat Sekolah Anak Bahari ini. Tidak mudah mencari teman yang sevisi dengannya. Bagus menceritakan bahwa saat mencari teman untuk diajak, sampai harus membuat daftar nama orang untuk ditemui. Hingga akhirnya bertemulah Ia dengan 4 orang yang benar-benar mau membantu untuk mendirikan Sekolah Anak Bahari ini.

Kurikulum Kebaharian

Sekolah Anak Bahari ini dilakukan setiap minggu. Kini, anak didik di Sekolah Anak Bahari sudah mencapai 100 terdiri dari anak-anak yang belum sekolah hingga kelas V dan 20 an anak yang memang putus sekolah. Mereka yang putus sekolah ini sebenarnya didukung oleh orang tua untuk sekolah. Tapi anak-anak itu memilih untuk mencari uang.

Kurikulum pengajaran yang digunakan di Sekolah Anak Bahari ini dibagi menjadi 3 konsep pembelajaran yaitu Minggu ke 1 dan ke 2 setiap bulannya Sekolah Anak Bahari ini akan mengajarkan pelajaran formal seperti yang ada di sekolah untuk menambah pengetahuan mereka karena pembelajaran di daerah tersebut cukup tertinggal. Sedangkan minggu ke 3 fokus kebaharian, dan minggu ke 4 ada pendidikan agama, kesenian dan hal-hal yang membangun kreativitas anak. Setiap minggunya kelas berlangsung selama 3 jam. Pengelolaan kelas ini dilakukan oleh volunteer. Bagus mengatakan bahwa hingga kini sudah memiliki 60 volunteer yang mau mengajar di Sekolah Anak Bahari. Volunter ini berasal dari berbagai lapisan; ada mahasiswa, PNS, atau bahkan pekerja pada umumnya yang direkrut melalui sosial media.

Siswa-siswi sekolah Anak Bahari mendapatkan pelatihan kesehatan menggosok Gigi

Untuk pengetahuan kebaharian, anak-anak didik Sekolah Anak Bahari mendapatkan sosialisai gemar makan ikan. Karena nelayan di Kampung Tanjung Kait merupakan nelayan buruh, jadi ikan yang diperoleh akan diserahkan ke pengepul. Sehingga anak-anak nelayan itu tidak sering makan ikan. Selain itu, Sekolah Anak Bahari juga konsen pada lingkungan terutama pada sampah-sampah di sepanjang pesisir pantai, dan sosialisasi tentang mangrove.

Sekolah Anak Bahari melakukan penanaman Mangrove

Dukungan Berbagai Pihak

Sekolah Anak Bahari ini awalnya tidak memiliki ruangan. Namun, kini respon masyarakat dan perusahaan sekitar cukup baik. Meskipun diawal pendiriannya, Sekolah Anak Bahari ini awalnya pernah disangka salah satu kegiatan politik. Sempat pula dikhawatirkan oleh aparat pemerintahan daerah masyarakat karena akan merepotkan aparat desa dan lain sebagainya. Tapi Bagus dan tim memiliki kemampuan untuk mengajak dan akhirnya aparat desa pun menyetujui Sekolah Anak Bahari ini. Awal nya baru 5 relawan dengan 100 siswa itupun alasnya tikar yang dipinjam dari pak RT. Awal bulan ke 4 kami diliput media lokal, dan berita itu sampai ke perusahaan daerah akhirnya kitapun dibantu satu lokal kelas. Itu ngebantu banget. Kenang Bagus.

Bagus mengaku hingga kini, belum ada kerja sama jangka panjang antara Sekolah Anak Bahari dengan lembaga, institusi dan perusahaan. Namun untuk kerja sama jangka pendek, Ia mengaku telah kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti sumi kabel, CSR pegawai dari anak perusahaan pertamina, koperasi syariah dan lain-lain. Untuk saat ini, menurutnya, Sekolah Anak Bahari tidak mengirimkan proposal ke lembaga-lembaga karena masih proses penguatan secara internal dari tim sekolah Anak Bahari.

Kegiatan rutin untuk menjalankan Sekolah Anak Bahari ini didanai oleh para volunteer. Saya menemukan orang yang sudah mau berkorban waktu dan volunteer ini mau iuran. Jadi kami pun mengambil dana dari situ. Ungkap Bagus yang memiliki kemampuan pelibatan relawan sangat baik.

Tantangan dan Pengembangan ke Depan

Tantangan paling inti menurut Bagus adalah membuat kurikulum sendiri. Sekolah Anak Bahari ini punya volunteer yang fokus ke pendidikan. Tantangan lainnya, adalah konsistensi relawan yang masih bergantung pada kehadiran Bagus. Ia pun bercerita di tengah-tengah perjalannya membuat Sekolah Anak Bahari pernah mengalami masa ditinggal oleh tim. Namun kini, Sekolah Anak Bahari sudah memiliki 10 orang inti pengurus harian. Maka menurutnya memang perlu manajemen yang baik dalam pengelolaan tim dan relawan ini.

Bagus berharap Sekolah Anak Bahari ini akan menyebar ke pesisir pantai yang lain. Harapan yang lain adalah membuat sekolah formal. Saat ini, Bagus dan tim sedang mengurus proses pembentukan Yayasan Sekolah Anak Bahari. Dampak Sekolah Anak Bahari ini cukup dirasakan oleh siswa-siswi di sekitar pesisir pantai. Ke depan, Ia dan tim akan melebarkan fokusnya tidak hanya pada pendidikan tapi juga ekonomi dari para nelayan di sekitar pantai. Program ini akan menjadi program jangka panjang. Saat ini Sekolah Anak Bahari sedang mengusahakan program sekolah paket. Sasaran sekolah paket ini adalah anak-anak putus sekolah di Sekolah Anak Bahari dan nelayan yang belum memiliki ijazah sekolah formal. Program paket ini akan direalisasikan pada 2018 karena saat ini masih proses pengurusan legalitas yayasan. (afd)