Workshop Pembentukan Karakter di PT Telkom

Anggota Pengurus Institut Harkat Negeri Erie Sudewo sebagai narasumber dalam Workshop Pembentukan Karakter di PT Telkom Bandung. Banyak orang tahu betapa pentingnya karakter. Namun saat ditanya apa itu karakter, banyak yg kebingungan. Saat gagap terjemahkan karakter, maka mungkinkah karakter bisa utuh berkembang?

Pengurus IHN Erie Sudewo foto bersama dengan peserta Workshop Pembentukan Karakter di PT Telkom Bandung. Negara lain sudah berbicara Return ON Character, sementara kita masih Return OF Character. Return ON Character tak lain tahap memetik hasil dari investasi karakter, sedangkan Return OF Character justru sedang dalam tahap “kembali pada karakter”. Artinya, kita belum punya karakter atau dalam tahap mencari karakter.

SEMILOKA Kedaulatan Indonesia menuju 2045

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, memberikan sambutan dalam Seminar dan Lokakarya (29/4) tentang Kedaulatan Indonesia: Menyongsong Seabad Kemerdekaan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Institut Harkat Negeri di Yogyakarta dengan mengundang Dr. H. Haedar Nasir,M.Si (Ketua PP Muhammadiyah) sebagai Keynote speaker dan beberapa Narasumber Pakar seperti Prof. Mochtar Pabottingi, Prof. Salim Said, Prof Ni’matul Huda dan Faisal Basri, MA.

Acara dimulai dengan seminar yang mengundang dosen pakar, aktivis, dan perwakilan lembaga dari Aceh hingga Papua.

Setelah seminar, Tim IHN membagi para undangan menjadi 3 kelompok komisi untuk lokakarya; Komisi satu membahas keamanan nasional, komisi dua membahas keadilan sosial dan Komisi tiga mendiskusikan tentang Globalisasi.

Tampak dalam forum, peserta lokakarya sedang mendiskusikan rumusan akhir setelah berdiskusi dalam kelompok komisi.

Di akhir sesi lokakarya seluruh peserta dan TIM IHN melakukan foto bersama.

Ketua Institut Harkat Negeri menjadi narasumber dalam Seminar MRT

Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said sebagai narasumber dalam acara Seminar dengan tema “Memimpin Transformasi” yang diadakan oleh PT MRT Jakarta di Pullman Hotel Jakarta.

Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said menerima plakat penghargaan dari Direktur Utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar setelah selesai memberikan ceramah dalam acara Seminar dengan tema “Memimpin Transformasi” yang diadakan oleh PT MRT Jakarta di Pullman Hotel Jakarta.

Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said foto bersama dengan Direktur Utama dan Direksi serta Kepala Divisi dan staf PT MRT Jakarta setelah selesai acara Seminar dengan tema “Memimpin Transformasi” yang diadakan oleh PT MRT Jakarta di Pullman Hotel Jakarta.

Ketua IHN Menjadi Pembicara Seminar di Munas BEM se-Indonesia di Samarinda

Ketua IHN, Sudirman Said memaparkan presentasi pada Seminar Nasional dalam rangka Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia Ke-X Tahun 2017 dengan tema: Gerakan Perjuangan Mahasiswa untuk Perbaikan Indonesia.

Sebagai cenderamata, Presiden BEM KM Universitas Mulawarman, Muhammad Teguh Satrio memberikan plakat kepada Sudirman Said selaku narasumber pada acara seminar dalam rangka MUNAS BEM SI Ke-X tahun 2017.

Musyawarah Nasional tersebut diselenggarakan di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, 21 – 29 Januari 2017. Seusai acara, Sudirman Said berpose di depan podium bersama panitia penyelenggara seminar nasional.

Para panitia seminar pun mengajak Sudirman Said untuk ber-selfie ria bersama seusai acara pemberian cenderamata.

Dialog Bersama Kepala Desa Kawasan Panca Mandala

Dalam rangka kegiatan Mendengar Daerah, Institut Harkat Negeri (IHN) mengadakan kunjungan dan dialog dengan para Kepala Desa yang tergabung dalam Kawasan Panca Mandala. Kawasan ini merupakan gabungan dari lima desa yang mempunyai kedekatan geografis dan persamaan visi-misi di antara kepala desanya. Kawasan Panca Mandala beranggotakan desa Papayan, Desa Mandala Mekar, Desa Mandala Hurip, Desa Kerta Rahayu, dan Desa Ciwarak. Kunjungan IHN bertempat di Kantor Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras, Tasikmalaya.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh tiga orang Kepala Desa dari lima anggota Kawasan Panca Mandala beserta perwakilan desa dari kelima anggota kawasan tersebut. Sementara dari pihak IHN diwakili oleh Rudiyanto, Saeful Doeala, Ika Istiana dan Binti N. Afdila. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut membahas banyak hal seputar potensi dan permasalahan yang ada di lima desa tersebut, khususnya kendala yang sering dihadapi oleh para Kepala Desanya.

Pak Undang, Kepala Desa Papayan mengungkapkan bahwa di kawasan Panca Mandala tersebut setiap desa mempunyai potensinya masing-masing. Misal desa Papayan mempunyai potensi produksi manggis dan kayu sengon. Sementara desa Mandala Mekar mempunyai ragam potensi wisata seperti curug, hutan dan situs-situs bersejarah. Begitu pula dengan tiga desa yang lain yang mayoritas mempunyai potensi produksi kayu sengon dan hasil pertanian. Untuk mengakomodasi potensi-potensi tersebut, kelima kepala desa bersepakat untuk membentuk sebuah Bumdes (Badan Usaha Milik Negara) yang diberi nama Bumdes Panca Mandala. Pada tahap awal, masing-masing desa anggota menyetor modal awal sebesar Rp 20.000.000. Tahun ini, pembangunan Bumdes sudah mencapai perumusan pengembangan bisnis dan rencananya masing-masing desa diwajibkan patungan modal sebesar Rp 100.000.000. Dana tersebut diambil dari alokasi dana desa.

Dalam kesempatan dialog, Pak Undang juga menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi dalam pembentukan Bumdes Panca Mandala. Kendala tersebut sebagian besar merupakan kendala teknis yaitu kurangnya pengetahuan dan teknologi untuk mengolah potensi daerah. Misalnya teknologi ekstraksi buah manggis menjadi sirup atau obat. Selain itu juga perlunya diadakan pelatihan pemasaran produk. Kurangnya jaringan pemasaran di luar daerah juga menjadi kendala signifikan. Karena apabila produk-produk Bumdes dipasarkan di desa, maka dikhawatirkan akan bersaing dan mematikan ekonomi masyarakat desa sendiri.

Sementara itu, pak Yana Kepala Desa Mandala Mekar mengungkapkan curahan hatinya dalam mengelola dana desa. Sejumlah dana besar yang dilimpahkan untuk pembangunan desa nyatanya tidak serta merta memudahkan beliau untuk berinovasi sesuai kebutuhan desanya. Turunnya dana desa tersebut diikuti dengan aturan-aturan Perda yang mengikat, termasuk pengaturan presentase alokasi dana desa yang sebagian besar diwajibkan untuk pembangunan infrastruktur fisik dan alokasi gaji pegawai desa. Sementara itu pembangunan potensi sumber daya manusia di desa masih terus diabaikan.

Masalah lainnya adalah kurangnya kepercayaan pemerintah pusat dalam pemberian otonomi desa. Bapak Undang mengibaratkan otonomi yang dimiliki oleh para kepala desa itu bagaikan dilepas kepalanya dipaku ekornya. Seringnya desa hanya menjadi pelaksana teknis yang menyampaikan bantuan kepada masyarakat, sebagai contoh PKH dan Raskin. Pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat, sayangnya data yang dipakai pemerintah harus berasal dari lembaga sensus yang ditunjuk oleh pemerintah, bukan atas rekomendasi desa. Lembaga tersebut tentunya memerlukan waktu untuk mengelola data dari ribuan desa, sehingga ketika data naik ke pemerintah pusat dan dana dicairkan, kondisi di lapangan sudah tidak sama. Ketidakakuratan tersebut akhirnya membuat masyarakat saling iri. Maka sebagai solusi, terpaksa Kepala desa di kawasan Panca Mandala melakukan pemerataan hasil. Karena kecemburuan sosial dapat merusak semangat gotong-royong warga desa. tidak lagi mau mengikuti kegiatan gotong royong dan lain sebagainya.

Pengkaderan pemuda desa juga merupakan hal yang perlu diperhatikan semua pihak. Hal ini disampaikan oleh Kepala desa Kerta Rahayu yang merupakan kepala desa termuda di kawasan tersebut. Beliau bercerita bahwa saat pertama kali menjabat, Beliau tidak mendapatkan apa-apa (legacy) dari pemerintah sebelumnya. Sehingga Beliau memerlukan waktu selama 1 tahun untuk mengenal dan mempelajari Desa. Pak Yana yang merupakan Kepala Desa pada periode kedua di des Mandala Mekar juga menyampaikan bahwa Beliau membutuhkan waktu 3 tahun untuk mengenal lebih jauh kebutuhan desanya. Sehingga Kepala Desa membutuhkan pelatihan seperti lokakarya, yang mencakup aspek kepemimpinan dan administrasi daerah yang setelah dilakukan pelatihan bisa langsung dipraktekkan.

Oleh: Ika Istiana

Tim IHN bersilaturahmi dengan warga di Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi

Usai mengunjungi Museum dr Radjiman Widyodiningrat dan Monemun Soeryo, Tim IHN bersilaturahmi dengan warga di sekitar lokasi Monumen Soeryo. Tepatnya di Desa Bangunrejo Kidul Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, bertempat di rumah mantan Kepala Desa Bapak Giarto. Perbincangan cukup hangat mulai dari pembangunan desa yang masih tertinggal, dinamika birokrasi daerah hingga nasib petani di sekitar hutan jati. Ada banyak pelajaran dan catatan dari hasil silaturahmi dengan warga yang patut dikaji lebih lanjut oleh Tim IHN.

Selesai diskusi dilanjutkan acara santai dengan membangun keakraban dalam silaturahmi Tim IHN dengan warga di Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi

Kemudian berlanjut dengan santap siang bersama warga usai acara silaturahmi dan bincang-bincang seputar permasalahan lokal di Desa Bangunrejo Kidul, Kec.Kedunggalar, Ngawi.

Tampak pula pada gambar Ketua IHN Soedirman Said sedang mencicipi aneka menu lokal yang disiapkan oleh warga.

Sesi dialog dan mendengar daerah antara Tim IHN dengan KOmunitas lokal Purwokerto

Dalam kunjungan ke Purwokerto, Tim IHN menyempatkan bersilaturahmi dan bertemu muka dengan komunitas lokal dari berbagai latar latar belakang. Bertempat di Hotel UMP Kebondalem, Purwokerto, pertemuan Tim IHN dengan Komunitas lokal membahas berbagai permasalahan, mulai dari budaya lokal, pemberdayaan petani, dinamika birokrasi hingga persoalan potensi ekonomi masyarakat di seputar Banyumas. Tampak dalam gambar suasana forum pertamuan IHN dengan komunitas lokal purwokerto.

Salah satu tokoh Lokal Prof Sugeng, yang menyampaikan potret masyarakat Banyumas dalam sudut pandang kebudayaan.

Ketua IHN sedang menyampaikan respon setelah mendengar berbagai paparan peserta silaturahmi

Foto bersama Tim IHN dengan komunitas lokal usai dialog dan ramah tamah

Selingan musik keroncong di sela acara silaturahmi dan dialog komunitas

Tim IHN Melakukan Dialog dengan Komunitas Lokal

Satu kegiatan dari rangkaian roadshow bertajuk mendengar daerah, Tim IHN melakukan silaturahim dan berdialog dengan komunitas lokal di Solo. Diskusi membicarakan dinamika masyarakat di lingkungan Solo dan sekitarnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendengar berbagai potensi dan permasalahan di daerah, khususnya di Solo. Tampak hadir Ketua IHN Sudirman Said yang didampingi oleh Tim IHN Adib Achmadi dan Sahala Harahap. Turut hadir pula dalam diskusi Wartawan senior J. Joseph Osdar.

Komunitas lokal Solo yang hadir dalam dialog tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat, diantaranya dari akademisi, aktivis mahasiswa, kelompok diskusi, dan komunitas UMKM. Diskusi santai tersebut dipandu oleh pegiat sosial asal Solo, saudara Respati.

Kegiatan mendengar daerah ini bertempat di Rumah Makan Roemahkoe yang berada di lingkungan Kampung Batik Laweyan Solo. Di tempat ini tersimpan risalah perjuangan KH Samanhudi dan organisasi Serikat Dagang Islam (SDI). Acara ditutup dengan foto bersama antara Tim IHN dengan para peserta dari berbagai komunitas di Solo.

Isu yang dibahas dalam dialog cukup luas, mulai persoalan ekonomi, kebudayaan, hingga dinamika politik aktual. Ketua IHN pun, dengan sabar merespon berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta dialog. Banyak ide-ide kritis dan segar yang muncul dari peserta diskusi yang membuat waktu dua jam terasa singkat.

TIM IHN, berkunjung ke Situs Sejarah Trowulan dan Berziarah ke Makam Gusdur dan Makam Bung karno

Perjalanan membaca Indonesia Tim IHN ke Jawa Timur di antaranya berkunjung di Situs Trowulan dan berziarah di dua makam pahlawan nasional. Kedua makam tersebut adalah Makam KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) di Tebu Ireng dan Makam Ir. Soekarno (Bung Karno). Dalam foto di atas, Tim IHN dan Arifin Asdat (Pimred Kumparan) berfoto di depan Rmah Panggung di area situs.

Sudirman said, ketua IHN, sedang berfoto di samping patung mahapatih gajah mada.

Di kedua makam tersebut Tim IHN melakukan doa bersama sekaligus merefleksi kembali akan perjuangan dari pahlawan tersebut. Foto di atas menunjukkan TIM IHN sedang berdoa di Makam Gus Dur.

Setelah mengunjungi situs sejarah Trowulan dan Makam Gusdur, Tim IHN melanjutkan perjalanan menuju Makam Bung Karno. Tampak dalam foto, Tim IHN membaur dengan masyarakat untuk melakukan doa bersama di Makam Bung Karno, Blitar.

Seusai melakukan doa bersama, Tim IHN berfoto bersama di depan pintu makam Bung Karno, di Blitar.

Ziarah dan doa bersama di Makam Jenderal Soedirman, Yogyakarta

Perjalanan membaca Indonesia Tim IHN ke Yogyakarta diantaranya berziarah di dua makam pahlawan nasional. Kedua makam tersebut adalah Makam Panglima besar Jenderal Soedirman dan HOS Cokroaminoto. Di kedua makam tersebut Tim IHN melakukan refleksi sejenak seputar bhakti dan perjuangan semasa kedua pahlawan masih hidup. Tampak dalam gambar Tim IHN sedang melakukan doa bersama di makam Jenderal soedirman.

Foto bersama Tim IHN di depan Makam Jenderal Soedirman, di Taman Makam Pahlawan, Kusuma Negara Yogyakarta.

Refleksi dan doa bersama Tim IHN di Makam HOS Cokroaminoto, di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.

Ketua IHN, Soedirman Said sedang berfoto di samping nisan Pahlawan Nasional, HOS Cokroaminoto.

Tim IHN sedang menyusuri area Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta, untuk menuju Makam HOS Cokroaminoto.

Tim IHN berkunjung ke rumah tempat lahirnya Jenderal Soedirman

Monumen tempat lahir Jenderal Soedirman di Desa Batarkarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga menjadi salah satu tujuan Tim IHN dalam seri Perjalanan Membaca Indonesia. Di tempat ini Tim IHN menyaksikan berbagai peninggalan Jenderal Soedirman diantaranya kamar tempat pahlawan nasional itu dilahirkan dan tempat tidur bayi, termasuk di dalamnya ada replika dan relief perjuangan Jenderal Soedirman di dinding depan rumah.

Berbincang tentang perjalanan Jenderal Soedirman di halaman Momumen Jenderal Soedirman

Foto bersama TIM IHN di halaman Momumen Jenderal Soedirman

Tim IHN, berkunjung ke Situs bersejarah di Ngawi

Di Kabupaten Ngawi, tepatnya di Dusun Dirgo, Desa Walikukun Kab Ngawi, terdapat sebuah rumah peninggalan salah satu pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah dr Radjiman Widyodiningrat. Rumah mantan Ketua BPUPKI ini kini menjadi museum yang dibuka untuk publik. Beberapa benda peninggalan di dalam museum antara lain risalah-risalah (foto dan tulisan), perabotan, dan patung delman yang berada di halaman museum. Mengunjungi museum dr Radjiman Widyodiningrat pengunjung bisa mendapatkan informasi seputar kiprah pahlawan nasional tersebut saat menjelang kemerdekaan dan kiprahnya di masyarakat pada masa itu.

Foto bersama Tim IHN, wartawan senior Josep Osdar dan penjaga museum di halaman museum.

Di dalam museum yang cukup luas ini, Tim IHN berbincang santai di ruang tamu museum.

Ketua IHN juga sempat berfoto di salah satu dinding museum yang bertuliskan risalah tentang aktivitas dr Radjiman Widyodiningrat selama berada di rumah tinggalnya di Dusun Dirgo, Walikukun Ngawi

Gerbang Situs dr Radjiman Widyodiningrat.

Selain ke Museum dr Radjiman Widyodiningrat, Tim IHN juga berkunjung ke Monemen Soeryo. Situs ini berada dipinggiran Jalan Raya Ngawi Solo, di kawasan hutan jati Ngawi. Tampak Tim IHN berfoto bersama di bawah patung Gubernur Soeryo.

Ketua IHN,Soedirman Said pun berfoto di samping prasasti Monumen Soeryo.