
PERJALANAN hidup Sudirman Said menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Lahir
dari keluarga sederhana, ia tumbuh dengan pesan kuat dari sang ibu untuk sekolah setinggi-tingginya.
Pesan itu kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, dari dunia pendidikan, usaha, pemerintahan,
hingga kembali mengabdi di dunia akademik. Setelah menyelesaikan pendidikan doktor, ia tetap meyakini bahwa
belajar tidak pernah mengenal kata selesai.
Berikut ini wawancara eksklusif Tim PanturaNews (T) dengan Rektor Universitas Harkat Negeri Tegal, Sudirman
Said (J) berbagi tentang makna pendidikan, perjuangan, kegagalan, pengabdian, dan pentingnya menjadikan ilmu
sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.
T: Panjenengan lahir dari keluarga yang secara ekonomi tidak berlebihan. Apa yang sejak kecil membuat
panjenengan percaya bahwa pendidikan bisa mengubah jalan hidup seseorang?
J: Saya lahir dan besar di tengah kemiskinan. Bisa terus hidup dan tumbuh karena ditolong banyak orang. Ya
Saudara, ya sahabat, ya negara. Bapak pensiunan Mantri Guru (Kepala Sekolah), Ibu orang desa yang pendidikannya
hanya kelas 4 Sekolah Rakyat. Sepeninggal Bapak ketika umur saya 9 tahun, Ibu harus berjuang menghidupi dan
membesarkan 6 anak.
Entah kenapa dalam keterbatasan, Ibu sangat ngotot agar anak-anaknya terus sekolah, dengan berbagai cara. Mencari
bantuan ke sanak saudara, menitipkan anaknya untuk “ngenger”, sampai meminta keringanan uang sekolah ke kepala
sekolah.
Dalam perjalanan hidup numpang ke sana kemari, yang saya tumpangi adalah orang-orang yang hidupnya lebih
maju, lebih sejahtera, dan lebih berdaya. Mereka ternyata orang-orang yang berpendidikan cukup maju. Mungkin
ini yang membuat saya yakin bahwa pendidikan dapat mengubah jalan hidup seseorang.
T). Ibu panjenengan pernah berpesan, “Kowen kabéh kudu sekolah setinggi-tingginya.” Seberapa kuat pesan emak
itu memengaruhi perjalanan pendidikan dan kehidupan panjenengan sampai hari ini?
J). Sangat menancap di hati dan pikiran saya. Semakin dewasa semakin memahami makna pesan Ibu, dan makin bisa
menghayati betapa pentingnya pendidikan.
T). Panjenengan sudah melewati banyak dunia: pernah kuliah di Amerika Serikat, menjadi pengusaha, pernah
menjadi menteri, kini menjadi rektor, dan baru saja meraih gelar doktor. Apa benang merah yang menghubungkan
semua perjalanan itu?
J) Mungkin perjalanan hidup ini saya bisa jelaskan dengan dua tiga kata kunci: perjuangan, kelangsungan hidup, dan
Kalau mau survive dan bermakna, punya peran dalam kehidupan, tidak ada jalan lain kecuali terus
makna. berjuang.
T). Kalau melihat perjalanan panjang tersebut, sebenarnya mengapa panjenengan terus belajar? Apa yang
panjenengan cari dari proses belajar yang tidak pernah berhenti?
J). Dulu belajar sebagai keharusan karena diwajibkan oleh sekolah. Pada waktu memasuki dunia kerja belajar
menjadi kebutuhan, karena untuk maju dalam pekerjaan kita harus terus menerus mengasah kompetensi kita. Kalau
sekarang belajar sudah jadi hiburan yang sering membuat ketagihan.
T). Mau apa dengan terus belajar? Apakah pendidikan bagi panjenengan sekadar untuk memperoleh gelar, atau ada
tujuan yang jauh lebih besar?
J). Kalau sekarang, di usia yang sudah memasuki kepala 6, belajar hal-hal baru sudah kaya jadi candu. Ada
kenikmatan tersendiri untuk mengetahui hal baru, ilmu baru, cara baru, dan kemungkinan-kemungkinan baru,
termasuk kesempatan yang muncul.
Karena hampir seluruh perjalanan hidup saya adalah mengabdi bagi kepentingan publik, maka hal-hal baru yang saya
temukan melalui proses belajar, menjadi energi yang terus terjaga untuk memikirkan apa yang bisa diberikan kepada
orang banyak.
T). Untuk apa seseorang belajar setinggi-tingginya, jika pada akhirnya ukuran keberhasilan bukan hanya jabatan,
gelar, atau materi?
J). Banyak yang terlalu sederhana menterjemahkan hidup. Seolah gelar, titel, jabatan, dan pencapaian kebendaan itu
hal yang terpenting. Materi dan jabatan diperkukan, tetapi hidup harus memberi makna.
Dan ketika tujuan hidup kita adalah memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia, maka kita tidak lagi
dibatasi oleh jabatan, pangkat, apalagi cuma gelar. Dengan atau tanpa jabatan kalau kita mau, tetap bisa berbuat bagi
orang banyak. Punya gelar atau tidak, taka da bedanya, bila kita punya maksud baik memberikan yang terbaik bagi
lingkungan dimana kita berada.
T). Panjenengan pernah berada di dunia usaha, pemerintahan, akademik, dan sekarang memimpin perguruan tinggi.
Apa yang paling banyak panjenengan pelajari dari setiap dunia yang pernah panjenengan masuki?
J). Saya syukuri, karena perjalanan hidup saya cukup berwarna. Dan itu memberi kelengkapan pembelajaran,
memberi kesempatan berteman- berjejaring dengan banyak orang dari segara profesi dan warna.
Di pemerintahan saya belajar betapa kekuasaan itu dapat memberi manfaat bagi banyak orang, kalau kita bisa
memisahkan antara urusan personal dan urusan public. Di dunia usaha saya memahami apa makna efisiensi,
bertindak dengan penuh menghitung cost dan benefit (membandingkan biaya dan manfaat).
Di dunia pergerakan sosial dan kemanusiaan mat akita dibuka oleh hebatnya semangat kesukarelaan masyarakat.
Saya merasa ketiga pilar kehidupan memberi bekal yang sangat berharga, terutama bila kita terus berkomitmen pada
tugas menjadi pelayan publik.
T). Dari semua pengalaman tersebut, mana yang paling banyak mengubah cara pandang panjenengan terhadap
kehidupan dan manusia?
J). Masing-masing punya peran yang saling melengkapi. Tapi kalau boleh membuat catatan khusus, maka salah satu
pelajaran yang amat penting adalah memaknai otoritas publik atau kekuasaan. Kekuasaan seperti pisau bermata dua.
Bila digunakan untuk kemanfaatan banyak orang maka kekuasaan sangat besar manfaatnya.
Tetapi, sebaliknya, bila kekuasaan disalahgunakan, untuk kepentingan diri dan kelompoknya, maka kekuasaan
menjadi sangat destruktif. Bisa merusak segala aspek kehidupan.
Kesadaran ini terus menjaga saya agar berupaya sekuat tenaga memisahkan urusan privat dengan urusan publik. Saya
menyadari tantangannya begitu besar, terutama dalam suasana kehidupan bernegara akhir-akhir ini.
T). Panjenengan baru saja menyelesaikan pendidikan doktor setelah perjalanan enam tahun. Apa yang sebenarnya
ingin panjenengan buktikan melalui pencapaian doktor ini, kepada diri sendiri, keluarga, atau kepada orang lain?
J). Tidak ada beban atau niat membuktikan apapun. Sederhana sekali, mengapa saya memutuskan sekolah S-3,
karena basisnya saya seorang guru, pendidik, jadi rasanya baik saja bila saya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan
tertinggi.
Lantas mengapa saya ngotot menuntaskannya, walaupun di tengah kesibukan, saya ingin menjaga kebiasaan:
menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Semoga jalan pikiran ini dapat memberi inspirasi kepada anak cucu, keponakan, handai tolan, dan generasi
mendatang; termasuk para mahasiswa yang saya ajar.
T). Bagaimana proses belajar yang menurut panjenengan benar-benar membentuk seseorang? Apakah cukup
dengan membaca buku dan mengikuti pendidikan formal, atau ada proses lain yang lebih penting?
J). Belajar di sekolah atau lembaga pendidikan formal hanya salah satu cara. Ruang belajar tersedia dimana-mana:
buku-buku, internet, yutube, organisasi, forum diskusi, bahkan dunia kerja bisa menjadi ruang belajar yang kaya.
Yang paling penting, di dalam diri kita memiliki semangat kuat untuk terus menyerap hal baru. Belajar pada dasarnya
adalah memahami hal-hal baru untuk terus meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan ketrampilan kita.
T). Ketika menghadapi kegagalan, penolakan, atau jalan yang berliku, apa yang membuat panjenengan terus
berjalan dan tidak berhenti belajar?
J). Mungkin kembali pada makna hidup tadi. Orang hanya akan bertahan hidup kalau berjuang. Dan kalau kita mau
memberi manfaat, menjadikan hidup kita bermakna, ya harus survive, dan berdaya.
Tidak ada jalan lain, kecuali belajar sepanjang hayat, agar pikiran dan cara berfikir kita terus relevan dan mampu
menjawab berbagai tantangan.
T). Kalau pesan emak dulu adalah “sekolah setinggi-tingginya,” setelah panjenengan mencapai pendidikan
tertinggi, apa makna “setinggi-tingginya” itu menurut panjenengan sekarang?
J). Secara formal bisa begitu memaknainya. Tetapi secara filosofis, kitab bisa bertanya: apakah meraih gelar doctor,
bahkan professor sekalipun, merupakan akhir perjalanan belajar kita?
Saya berpendapat, tidak demikian. Bahkan menjadi doktor dapat dimaknai sebagai pemahaman, betapa sempitnya
ilmu kita, dibandingkan dengan khasanah ilmu pengetahuan secara keseluruhan.
Maka saya ingat pesan Promotor saya, Prof. Aurik Gustomo: “meraih gelar doktor seharusnya membuat seseorang
lebih rendah hati, karena menyadari betapa luasnya ilmu pengetahuan, dan betapa terbatasnya ilmu yang kita
pahami”.
T). Apakah pendidikan tinggi harus selalu berujung pada gelar dan jabatan, atau ada ukuran keberhasilan lain yang
jauh lebih penting?
J). Saya meyakini, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya
manusia. Bukan yang paling tinggi gelarnnya, paling tinggi pangkatnya, atau paling besar kekuasaannya. Jadi yang
terpenting adalah apakah hidup kita memberi makna atau tidak.
T). Kepada anak-anak muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga sederhana dan merasa tidak memiliki
banyak kesempatan, apa yang ingin panjenengan katakan tentang sekolah, belajar, dan keberanian bermimpi?
J). Tanpa bermaksud umuk atau tepuk dada, mungkin anak-anak yang kebetulan lahir dan besar di lingkungan yang
serba kekurangan, boleh menyimak perjalanan hidup saya. Bila kita mau berusaha, tidak berhenti belajar, tidak
berhenti ikhtiar, dan terus berbuat baik kepada sekeliling, maka tidak ada alasan untuk merasa buntu.
Bermimpilah setinggi langit, untuk menjadi pemacu tekad dan semangat, tetapi harus disertai dengan ikhtiar, kerja
keras, dan tekad untuk membangun kehidupan yang berarti bagi sekeliling kita.
T). Kalau suatu hari anak muda bertanya, “Pak Sudirman, saya harus belajar sampai kapan?” apa jawaban
panjenengan?
J). Sampai kita tidak mampu belajar lagi, alias sampai hidup kita selesai di dunia, dan dipanggil Tuhan kembali ke
pangkuan Nya.
T). Pertanyaan penutup. Kalau emak masih ada di depan panjenengan hari ini, apa yang ingin panjenengan
sampaikan kepada beliau?”
J). Saya akan cium kakinya, dan mohon doa restu agar diberi s
